Profesor Jackie Ying, Mualaf Singapura Pencipta Alat Uji Tes Covid-19

Loading...
Seorang muslimah asal Singapura, Profesor Jackie Ying, berhasil menciptakan alat atau kit rapid test yang digunakan untuk mendeteksi apakah seseorang positiv virus Corona (Covid-19) atau tidak, hanya dalam waktu lima menit.


Menciptakan Alat Tercepat

Alat ciptaannya itu, diklaim akan menjadi yang tercepat di dunia jika sudah disetujui oleh pihak yang berwenang. Selama enam minggu, Ying berserta timnya bekerja tanpa lelah hanya untuk membuat alat tersebut.

Pekerjaan tersebut, mereka lakukan setelah Direktur Eksekutif A*Star, Frederick Chew menantang mereka untuk membuat kit rapid test Covid-19.

Dilansir dari The Straits Times, tim peneliti ini berharap persetujuan bisa mereka dapatkan dalam waktu satu bulan. Tes ini mencari bahan genetik virus dalam sekresi pasien yang dikumpulkan dari uji swab (tenggorokan).

Sampel ini lalu dimasukkan ke dalam perangkat portabel yang akan mengeluarkan hasil sekitar 5-10 menit. Metode amplifikasi yang sangat cepat ini mereka beri nama “Cepat”.

“Kami telah melakukan beberapa validasi klinis awal di Rumah Sakit Ibu dan Anak KK memakai sampel pasien nyata, dan menemukan tes itu sangat sensitif dan akurat,” kata Ying.

Lantas, siapakan Profesor Jackie Ying, yang namanya menjadi perbincangan publik?

Ying adalah seorang muslimah, yang berprofesi sebagai Kepala Lab NanoBio di Agensi untuk Sains, Teknologi, dan Penelitian (A*Star). Pada tahun 2008 lalu, Ying pernah dinobatkan sebagai salah satu dari “100 Insinyur Era Modern”, oleh Institut Insinyur Kimia Amerika.

Seorang Mualaf

Ying merupakan seorang mualaf, yang baru masuk Islam pada usia 30-an. Pada 2015 silam, dia juga merupakan pemenang perdana US $ 500.000 (S $ 676.000) Mustafa Prize Award Top Scientific Achievemnet Award, untuk inovasinya dalam teknologi bionanateknologi. Hadiah tersebut diberikan oleh pemerintah Iran kepada para peneliti Muslim terkemuka.

Semenjak dirinya memeluk Islam, ia sangat aktif dalam kegiatan dakwah di Yayasan Mandaki. Terelebih, Yayasan tersebut memiliki tujuan untuk membantu dalam mengengembangkan sumber daya komunitas Muslim Melayu di Singapura.

Bukan hanya aktif dalam berdakwah saja, bahkan ia kerap mengisi program inspirasi. Dalam program tersebut, Ying, tak segan membagikan pengalamannya tentang perubahan dan prestasi yang ia raih, teramsuk bagaimana ia bisa memilih Islam sebagai agamanya.

Pertama kali Ying mulai mengenal Islam, yakni dari teman baiknya ketika belajar di Raffles Girl School. Namun, Ying baru mulai membaca mengenai agama Islam saat usianya 30 tahun.


Menurutunya, Islam merupakan agama yang sederhana dan masuk akal. Tak ada reaksi negatif yang terjadi ketika ia memilih Islam untuk menjadi agamanya.

Para koleganya pun tak menghiraukan perubahan itu. Namun, mereka tak lagi melihat sosok Ying yang tidak percaya dengan adanya Sang Pencipta, di balik sistematika biologis kehidupan.

Ia justru dikenal sebagai seorang yang meyakini ada sesuatu yang Maha Besar di balik sistem kehidupan. Perubahan terbesar dalam hidupnya dimulai ketika Ying melaksanakan ibadah umroh, hingga akhirnya ia memutuskan untuk memakai jilbab.

Meraih Banyak Penghargaan

Wanita yang lahir di Taiwan ini, kemudian pindah ke Singapura bersama keluarganya ketika usianya 7 tahun. Ayahnya merupakan dosen Sastra Cina di Nanyang Nanyang University.

Sejak masih kecil, Ying sangat menyukai ilmu pengetahuan, khususnya ilmu kimia. Namun, informasi soal kehidupan pribadinya tidak tersentuh. Termasuk keputusannya dalam memeluk Islam.

Ying adalah salah satu ilmuan yang menonjol. Ketika bekerja di bidang nanoteknologi, ia banyak menerima penghargaan di bidang tersebut.

Kini, Ying telah menjabat sebagai Direktur Eksekutif Lembaga Bioengineering dan Nanoteknologi (IBN), Singapura. Bahkan, ia masuk ke dalam daftar 500 Muslim paling berpengaruh versi Kerajaan Yordania (RISSC).

Di usianya yang 36 tahun, Ying menjadi Profesor termuda di Massachusetts Institute of Technology (MIT). Dua tahun kemudian, ia menjadi anggota termuda dari Akademi Ilmu Pengetahuan Leopoldina Jerman, akademi tertua di dunia untuk obat-obatan dan ilmu pengetahuan alam.

Pada tahun 2008, ia juga meraih satu tempat dari delapan perempuan dalam daftar 100 Insinyur di era modern versi American Institute of Chemical Engineers. Dia menerima gelar B.E. dan Ph.D. dari The Cooper Union dan Princeton University.

Di tahun 1992, dia juga bergabung dengan fakultas teknik kimia di Massachusetts Institute of Technology, di mana dia adalah Professor Teknik Kimia tahun 2005.

Ying menjadi Direktur Eksekutif Pendirian Institut Bioteknologi dan Nanoteknologi (IBN) di Singapura sejak 2003. Penelitian Ying tentang bahan berstrukturnano telah diakui dunia sehingga meraih banyak penghargaan.

Di antaranya dari Masyarakat Keramik Amerika Ross C. Purdy Award, penghargaan American Chemical Society di Solid-State Kimia, penghargaan Teknologi Inaugural TR100 Young Innovator Award, American Institute of Chemical Engineers (AIChE) Allan P. Colburn Award, dan International Union of Biokimia dan Biologi Molekuler Jubilee Medal.

Ying juga dinobatkan sebagai “Seratus Insinyur Era Modern”, oleh AIChE dalam Perayaan Centenialnya di Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional Jerman, Leopoldina. Ia juga diangkat sebagai Induk untuk Hall of Fame Wanita Singapura pada 2014 dan Pemimpin Redaksi Nanotoday.

Bahkan, Profesor Jackie Y. Ying telah dinobatkan sebagai Rekan Akademi Penemu Nasional Amerika Serikat (NAI). Status itu diberikan kepada penemu akademik yang telah menunjukkan semangat inovasi dalam menciptakan atau memfasilitasi penemuan luar biasa yang telah berkontribusi pada masyarakat.

Penemu yang Menerima Kehormatan

Prof Ying adalah salah satu dari 155 penemu dari seluruh dunia yang menerima kehormatan pada tahun 2017. NAI adalah organisasi anggota nirlaba yang didirikan pada 2010 untuk mengenali para penemu dengan paten yang dikeluarkan dari Kantor Paten dan Merek Dagang AS.

Berbasis di Florida, AS, tujuannya adalah untuk membuat teknologi dan inovasi akademik lebih terlihat dan menerjemahkan penemuan anggotanya untuk bermanfaat bagi masyarakat.


Prof Ying melanjutkan untuk bergabung dengan fakultas teknik kimia di Massachusetts Institute of Technology (MIT) pada tahun 1992, dan menjadi profesor penuh termuda usia 35 pada tahun 2001.

Dia memiliki lebih dari 180 paten utama dan aplikasi paten. 32 patennya telah dilisensikan ke perusahaan multinasional dan start-up untuk berbagai aplikasi dalam pengobatan nano, pengiriman obat, rekayasa sel dan jaringan, implan medis, biosensor dan perangkat medis, dan lainnya.

Penemuannya juga mengarah pada pendirian 11 spin-off, salah satunya – SmartCells Inc – telah mengembangkan teknologi yang mampu mengatur secara autoregulasi pelepasan insulin, tergantung pada kadar glukosa darah untuk pengobatan diabetes.


Perusahaan ini diakuisisi oleh raksasa farmasi Merck pada 2010, dengan pembayaran agregat berbasis tonggak lebih dari US $ 500 juta (S $ 676 juta) untuk lebih mengembangkan obat nano ini untuk uji klinis.

Profesor Kenneth Smith, ketua Dewan Penasihat Ilmiah IBN, mengatakan: “Prof Ying telah mengumpulkan catatan luar biasa dari kontribusi ilmiah bahwa ia telah beralih ke penemuan penting dan kemudian ke usaha komersial baru yang signifikan.

“Dia mengatakan bakatnya telah “benar-benar berkembang” sejak datang ke Singapura. Prof Smith, juga Edwin R. Gilliland, Profesor Teknik Kimia (Emeritus) di MIT, menambahkan: “Ketika dia tiba, ekonomi Singapura tidak terlalu berjiwa wirausaha, tetapi 13 perusahaan pemula baru sejak itu telah berhasil dipisahkan dari IBN, dan pencapaian ini sekarang berfungsi sebagai model peran untuk lembaga penelitian lain dan untuk penemu calon lainnya.

Profesor Ying memiliki lebih dari 320 artikel, 140 paten untuk namanya, dan mengisi 370 ceramah di konferensi internasional.

Loading...

0 Response to "Profesor Jackie Ying, Mualaf Singapura Pencipta Alat Uji Tes Covid-19"

Posting Komentar

Loading...